DAHSYATNYA PSYCHOSEMANTICS

Bale
DAHSYATNYA PSYCHOSEMANTICS

DAHSYATNYA PSYCHOSEMANTICS

15 Juni 2015

Suatu  hari keponakan saya cerita bahwa menurut kawanya sekarang ada hand hone yang bisa memutar dvd, dengan cd yang kecil. Saat saya Tanya, “wah, beli dimana tuh?” maka dia langsung menjawab “gak tahu om, di jonggol kali”

Tentu yang dimaksud tentu bukan jonggol  yang jaraknya tidak begitu jauh dari Jakarta, itu sebuah ekpresi untuk menggambarkan tempatnya yang belum jelas.

Pernahkah saat anda duduk didepan, kemudian ada tetangga sedang lewat berjalan, terus anda menanyakan “wah, mau kemana pak?” kemudian tetangga menjawab “ah enggak, jalan jalan aja”.  Kata “ah enggak” itu sebenarnya tidak jelas, tapi yang mengherankan baik tetangga itu maupun saya, seperti terjadi kesamaan pengertian. Walaupun mungkin juga, bila ditelusuri lebih dalam, bisa saja pemahamanya sangat berbeda.

Inilah yang disebut psychosemantics. Arti sebuah kata punya pengertian subjektif yang tiap orang bisa berbeda maknanya secara mental Walaupun begitu, sering sekali karena sering diucapkan, maka seakan akan kita punya pemahaman berbeda. Kata “jonggol” untuk orang yang sering berkomunikasi dengan kata ini dan terbiasa akan makna umum (walaupun bukan makna umum secara luas) akan memahami itu sebagai bahasa kiasan. Namun ketika ada orang yang belum paham makna jonggol, akan mengartikanya secara berbeda. Apalagi bertemu dengan orang yang belum tahu Jakarta termasuk jonggol. Maka pemahamanya menjadi berbeda lagi.

Misal ketika anda duduk berdiskusi dengan teman kerja sekantor, kemudian ada satu orang mengatakan “denger denger kita ada bonus tambahan” dan kemudian teman satu lagi merespon “bonus tambahan dari hongkong”. Maka yang lainpun akhirnya tersenyum kecut, karena itu itu hanya harapan palsu, karena bonus itu seperti tidak ada alasan yang mendukungnya. Yang menariknya mengapa Negara “Hongkong” yang disebut, mengapa tidak kutub utara atau Negara lain yang jauh. Ini adalah kesepakatan tidak tertulis yang terbentuk secara social, entah sengaja atau tidak disengaja.

Sebagai seorang sale ataupun leaders, anda akan sangat efektif melakukan persuasive, bila mau menggali serta melakukan survey, pola pola bahasa ini dalam masyrakat. Seorang sales yang hebat sebenarnya adalah seorang psikolog, sosiolog juga seorang praktisi psychosemantic. Dia harus tahu bagaiamana ucapanya bisa mempengaruhi cara berpikir maupun mental seseorang, terutama dalam membuat keputusan pembelian.

Sekarang marilah kita simak, satu penelitian kata “karena” yang dilakukan Ellen Langer, seorang psikolog dari Harvard, ternyata manusia lebih mudah saat meminta orang lain melakukan hal tertentu ketika memberikan alasan. Langer melakukan penelitian ketika orang antre menggunakan mesin fotokopi di kampusnya. Ketika dia mau mendahului orang di depannya, dia mengucapkan permintaan, "Maaf, saya punya lima halaman, boleh saya menggunakan mesin fotokopi terlebih dahulu?"

 

Hasilnya 60 persen orang mengizinkan. Kemudian ketika diberi alasan, "Maaf, saya punya lima halaman, boleh saya menggunakan mesin fotokopi terlebih dahulu karena saya sedang buru-buru? Dengan ditambah kata "karena" ini, efektivitas permintaan naik menjadi 94 persen yang mengizinkan Ellen Langer mendahului mereka.

Bahkan, hal serupa terjadi ketika di belakang kata "karena" diberikan sesuatu hal yang tidak ada artinya. Contoh, "Maaf saya punya lima halaman, boleh saya menggunakan mesin photo copy terlebih dahulu karena saya sedang ditunggu orang”

Hasilnya, sekali lagi, 93 persen mengizinkan Ellen Langer mendahului mereka walaupun tidak ada alasan yang layak dipertimbangkan ataupun informasi baru yang bisa mereka gunakan untuk lebih mengizinkan dia mendahului mereka dibandingkan dengan pertanyaan tanpa menggunakan kata "karena". Penggunaaan dalam dunia marketing: beritahukan bahwa penawaran yang Anda berikan adalah "karena"....

Misalnya, karena menyambut ulang tahun Anda, karena Hari Kartini, karena Hari Kebangkitan Nasional, karena Hari Natal, karena menjelang Lebaran, karena mau cuci gudang, karena mau tutup buku, dan karena karena lainnya. Biasanya, orang tetap saja lebih senang menanggapi penawaran kita daripada kita memberikan penawaran tanpa alasan sama sekali (atau mungkin Anda pernah mengalaminya sendiri?)

Inilah dahsyatnya ilmu psychosemantics. Kami sendiri saat ini menggabungkan ilmu psychosemantic ini dengan tehnik NLP atau neuro linguistic programming. Bila anda berminat untuk mengambil sertifikasi Psychosemantics NLP bisa menghubungi (021) 7919-1072 guna mendapatkan informasi jadwal pelatihan  dan hal lain yang ingin anda ketahui.